Senin, 01 April 2013

analisi novel salah pilih

NAMA        : NURMALA SARI
NIM            : 2222100396
KELAS        : 4 A / DIKSATRASIA


KAJIAN PROSA FIKSI
                                             Salah Pilih
                                    Karya Nur Sutan Iskandar

Sinopsis

Novel Salah Pilih karangan Nur Sutan Iskandar menceritakan tentang kisah disebuah daerah di Minangkabau, tinggal sebuah keluarga. Seorang ibu, saudara perempuannya, dan seorang anak laki-laki terdapat dalam keluarga tersebut. Anak perempuan itu bernama Asnah, ia adalah anak angkat dari Mariati. Asnah adalah seorang gadis yang cantik, baik, sopan, lembut, serta taat dan patuh terhadap Mariati, walaupun Mariati hanyalah ibu angkatnya. Kebaikan hati Asnah itu yang membuat Mariati sangat sayang terhadap Asnah, oleh karena itu Asnah menjadi  pengobat dalam setiap sakitnya dan penghibur dikala susah.
Sejak kecil Asri dan Asnah dibesarkan layaknya sebagai saudara kandung. Ibu Asri yang telah menjanda mengasuh dan menyayangi Asnah anak angkatnya seperti putrinya sendiri, Kedua “bersaudara” itu saling mengasihi, sampai tiba waktunya mereka beranjak dewasa. Namun, seiring berjalannya waktu, berubah perasaan Asnah terhadap Asri. Semula perasaannya terhadap Asri hanya sebatas perasaan sayang terhadap seorang saudara, namun demikian perasaan itu terus mengalir hingga menumbuhkan benih-benih cinta dihati Asnah. Walau demikian, Asnah tak ingin Asri mengetahui perasaan dirinya.
Sebisa mungkin dia bersikap biasa ketika Asri pulang. Hingga tiba saat Asri tamat dari sekolahnya, dan Mariati menyuruh Asri tinggal dan bekerja di Kampung halamannya saja karena ia merasa sudah tua dan sakit-sakitan maka ia tak ingin jauh-jauh dari anak laki-lakinya itu. Sebenarnya keinginan Mariati tadi sangat bertentangan dengan keinginan hati Asri, karena ia ingin sekali meneruskan sekolahnya ke tingkat SMA atau ke sekolah kedokteran, namun sebagai seorang anak yang ingin berbakti kepada ibunya, akhirnya ia mengikuti keinginan ibunya tersebut. Hingga suatu saat merasa bahwa Asri sudah cukup umur bahkan bisa dibilang sudah matang untuk menikah. Asri menyetujui saja keinginan ibunya tersebut, tetapi dia masih bingung dalam mencari calon istri untuk dirinya.
Salahkah bila kemudian cinta Asnah kepada sang kakak berubah menjadi cinta kepada seorang kekasih? Perasaan rendah diri sebagai seorang anak angkat sekaligus orang yang berutang budi kepada keluarganya Asri mendorongnya untuk menyimpan isi hatinya rapat-rapat bahkan mendukung Asri memenuhi harapan ibunya untuk segera berumah tangga. Lagi pula, pernikahan sesuku tidak diperbolehkan menurut adat mereka. Kemudian Asri menjatuhkan pilihannya kepada seorang gadis cantik yang baik rupa maupun raut wajahnya yang lahir dari keluarga kaya dan terpandang gadis itu bernama Saniah. Ketika acara lamaran diselenggarakan, Asnah menutup kepedihan hatinya dengan bersandiwara di depan Asri dan calon istrinya.
Tak lama, dilangsungkanlah upacara perkawinan Asri dengan Saniah yang sangat meriah. Setelah menikah, mereka berdua pindah ke Rumah Gadang milik keluarga Asri. Dari situlah diketahui bahwa sifat  Saniah tidaklah seelok yang dia perlihatkan saat sebelum menikah. Saniah begitu memandang rendah terhadap Asnah hanya karena Asnah adalah seorang anak angkat. Dia merasa bahwa tidak sepatutnya Asnah disejajarkan dengan dirinya yang berasal dari kaum terpandang. Ternyata, sifat Saniah begitu angkuhnya, berbeda dengan yang dia perlihatkan sebelum menikah dahulu. Saniah begitu sering berkata menyindir, bersikap bengis, bahkan mencaci maki yang begitu menyakitkan hati Asnah. Bahkan terhadap mertuanyapun, Saniah  bersikap yang kurang sopan. Namun Asnah adalah seorang gadis yang  tegar dan sabar yang mempunyai hati yang lapang,dia tak pernah membalas perlakuan buruk dari iparnya itu. Tak lama setelah menikah, adat buruk Saniah semakin menjadi-jadi. Bahkan sekarang dia berani melawan terhadap suaminya, kerap kali ia juga berkata kasar terhadap suaminya. Sehingga dapat dilihat kalau adat Saniah tak jauh bedanya dengan ibunya, Rangkayo Saleah. sehingga kesabaran Asri makin berkurang dan akhirnya Asri membiarkan Saniah pulang ke rumah orang tuanya dimana pada saat itu Sidi Sutan datang menjemput. Yang semula bermaksud menjemput Saniah dan Asri, namun karena pertengkaran itu, jadilah Saniah pulang sendiri dan dalam perjalanannya mengalami kecelakaan dimana mobilnya masuk ke dalam jurang. Saniah pun meninggal dunia. Pada akhirnya, Asri dan Asnah pun menikah di luar adat dan mereka pun menempuh hidup baru di Jakarta. Setelah beberapa tahun, orang dari kampung halaman Asri pun meminta dia sebagai ketua desa karena mereka menginginkan seseorang yang berintelektual tinggi.
Novel salah pilih ini di kaji dengan mengggunakan pendekatan soiologi sastra yang menghubungkan cerita yang ditulis pengarang dengan kehidupan masyarakat.
Sosiologi Sastra
Sosiologi sastra merupakan pendekatan yang bertolak dari orientasi kepada semesta, namun bisa juga bertolak dari orientasi kepada pengarang dan pembaca. Menurut pendekatan sosiologi sastra, karya sastra dilihat hubungannya dengan kenyataan, sejauh mana karya sastra itu mencerminkan kenyataan. Kenyataan di sini mengandung arti yang cukup luas, yakni segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra.
Demikianlah, pendekatan sosiologi sastra menaruh perhatian pada aspek dokumenter sastra, dengan landasan suatu pandangan bahwa sastra merupakan gambaran atau potret fenomena sosial. Pada hakikatnya, fenomena sosial itu bersifat konkret, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasikan.
Oleh pengarang, fenomena itu diangkat kembali menjadi wacana baru dengan proses kreatif (pengamatan, analisis, interpretasi, refleksi, imajinasi, evaluasi, dan sebagainya) dalam bentuk karya sastra.
Sosiologi sebagai studi yang ilmiah dan objektif mengenai manusia dalam masyarakat, studi mengenai lembaga-lembaga dan proses-proses sosial. Oleh karenanya sosiologi berusaha menjawab pertanyaan mengenai masyarakat dimungkinkan, bagaimana carakerjanya dan mengapa masyarakat itu bertahan hidup. Gambaran ini akan menjelaskan cara-cara manusia menyesuaiakan diri dengan ditentukan oleh masyarakat-masyarakat tertentu, gambaran mengenai mekanisme sosialisasi, proses belajar secara kultural, yang dengannya individu-individu dialokasikan pada dan menerima peranan-peranan tertentu dalam strutur sosial. Di samping itu sosiologi juga menyangkut mengani perubahan-perubahan sosial yang terjadi secara berangsur-angsur maupun secara revolusioner dengan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perubahan tersebut (Damono, 1978).
Menurut Ratna (2003: 2) ada sejumlah definisi mengenai sosiologi sastra yang perlu dipertimbangkan dalam rangka menemukan objektivitas hubungan antara karya sastra dengan masyarakat, antara lain:
1.      Pemahaman terhadap karya sastra dengan pertimbangn aspek kemasyarakatannya.
2.      Pemahaman terhadap totalitas karya yang disertai dengan aspek kemasyarakatan yang terkandung di dalamnya.
3.      Pemahaman terhadap karya sastra sekaligus hubungannya dengan masyarakat yang melatarbelakangi.
4.      Sosiologi sastra adalah hubungan dua arah (dialektik) anatara sastra dengan masyarakat, dan
5.      Sosiologi sastra berusaha menemukan kualits interdependensi antara sastra dengan masyarakat.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sosiologi sastra tidak terlepas dari manusia dan masyarakat yang bertumpu pada karya sastra sebagai objek yang dibicarakan.
Perubahan sikap tokoh yang dipengaruhi oleh adat
Pengaruh adat minang terhadap tokoh asnah sehingga asri  merasa kehidupannya telah berubah drastis semenjak mereka sudah beranjak dewasa dan setelah ia pulang ke kampung halamannya sesudah melanjutkan sekolahnya dan asri pun telah mendapat pelajaran barat dan sudah bercampur gaul dan beramah-ramah dengan bangsa eropa sehingga asri pun seolah-olah melupakan adat istiadat nenek moyangnya sendiri. 

Pengarang menggambarkan begitu kentalnya adat minang yang telah melekat pada tubuh asnah, sehingga asnah masih ingat dengan kesopanan dan adatnya hingga asnah tidak mau terlampau bebas dengan asri karena asnah berfikir bahwa ia sudah beranjak dewasa dan semua perbuatan itu pasti ada batasnya. Tergambaran  pada kutipan di bawah ini:

“ Berjabat tangan pun sudah agak terasa janggal olehnya, dan berdekatan duduk sumbang pada adat, jika tidak ada orang lain yang beserta duduk dekat adik dan kakak itu” (hal.27)

“Adat kuno!masa orang yang bersaudara seperti kamu dan aku ini, akan berlaku sebagai orang lain. Apa salahnya aku berjabat tangan dan bersuka-sukaan dengan kamu ini?”(hal. 28)
Rupanya adat tersebut membuat asri merasa tidak menyenangkan hatinya, tidak memenuhi kehendaknya sehingga asri berfikir mengapa adik dan kakak seperti halnya orang lain.
Selain itu juga terdapat dalam kutipan di bawah ini yang menggambarkan perubahan sikap Asnah terhadap Asri, dimana Asnah mengingatkan kepada Asri tentang adat masyarakat yang berlaku di masyarakat minang:
 “bukan hati yang berubah, melainkan adat yang seolah-olah telah menjauhkan kita, semasa kecil memang boleh kita bermain-main, berjalan-jalan, tertawa-tawa dan berpeluk-pelukan. Akan tetapi sekarang kita sudah mulai remaja, hingga ini keatas, kelakuan sanak laki-laki harus hingga berbatas kepada saudaranya yang  perempuan, kalau kita tidak pakai adat itu, niscaya kita akan hina dimata orang”. (hal 28)

Jelas pengarang disini telah mencerminkan kenyataan yang terjadi di adat minang yang begitu kental, sehingga masyarkat minang harus berpegang teguh pada adat yang berlaku dimasyarakatnya, yang membuat tokoh utama asri merasa tertekan dengan adat yang melilitnya yang seakan-akan adat yang telah menjauhkan mereka. Sampai perubahan sikap dan tingkah laku asnah terhadap asri dilatarbelakangi oleh adat dan pengaruh lingkungannya, apa boleh buat asnah berpegang teguh terhadap adat yang berlaku di kehidupannya. Yang menjadi beban sekaligus penghalang terhadap hubungan asri dan asnah.

Konflik yang terjadi berhubungan dengan adat masyarakat (minang)
Konflik yang terjadi dalam novel salah pilih yaitu ketika tumbuhnya benih-benih cinta antara Asnah dan Asri yang keduanya saling memiliki perasaan yang sama dan saling mencintai meskipun keduanya memiliki ikatan persaudara. Meskipun keduanya hanya saudara angkat, di adat mereka bahwa mencintai satu suku yang sama tidak diperbolehkan apalagi sampai kejenjang pernikahan. Cinta mereka terhalang oleh adat yang berlaku dimasyarakat / lingkungannya.
Karena mariati beranggapan bahwa asri sudah cukup umur bahkan bisa dibilang sudah matang untuk menikah. Asri menyetujui keinginan ibunya tersebut, tetapi dia masih bingung dalam mencari calon istri untuk dirinya. Kemudian Asri menjatuhkan pilihannya kepada seorang gadis cantik yang baik rupa maupun raut wajahnya yang lahir dari keluarga kaya dan terpandang gadis itu bernama Saniah.
Namun tak disangka-sangka gadis yang cantik dan baik itu (saniah) ternyata memiliki sifat tidak sebaik yang dipikirkan asri, hampir setiap hari pertengkaran itu terjadi dirumah gedang, yang mana saniah tidak ingin disejajarkan derajatnya dengan asnah yang hanya anak angkat. terdapat dalam kutipan :
“Makcik Liah dan Asnah.. itu! Anak babu yang bekerja di sini dahulu. Jadi derajatnya tidak sama dengan derajat kanda, dan haram kanda jamah dia!”(hal.128)
Dari situlah keadaan rumah tangga Asri dan Saniah tidak baik, dan pertengkaran pun sering terjadi di rumah gedang.  Dan akhirnya saniah meninggal setelah kecelakaan maut kemudian Asri memutuskan untuk menikah dengan Asnah tetapi pernikahan itu terhalang oleh adat.
Memang benar bahwa penyesalan itu datang ketika kita sudah merasakan akibatnya,ternyata perjodohan itu tidak semanis apa yang dipikirkannya, ini yang dirasakan ibu mariati, penyesalan itu tergambar pada kutipan berikut:
“benar anakku, aku sungguh kecewa akan tingkah laku istrimu. Sangkaku dahuu keturunan dan kekayaan, pelajaran dan kecantikan yang ada padanya, akan bermanfaat bagi kita akan dapat menyemarakkan namamu dalam masyarakat, dan ia pun akan dapat jadi kawan hidup yang berbakti kepadamu, tapi sebaliknya, malang engkau kuperistrikan!” (hal 161)
Sikap Asri yang berontak terhadap adat yang melilitnya yang tidak memperbolehkannya menikah satu adat dengan Asnah, dan bersikeras untuk menikahi Asnah, Terdapat dalam kutipan :
“Mereka itu berpendapat bahwa aku tidak boleh kawin dengan asnah, pertama-tama, kecuali karena masalah sesuku itu sebab kami sudah dianggap bersaudara sejak kecil. Jika tidak kulakukan sedemikian dan aku kawin juga dengan asnah, kami mesti dikeluarkan dari adat dan tak diakui sebagai orang minangkabau lagi” (hal. 246)
Namun akhirnya Asnah menikah di negerinya sendiri namun pernikahannya dengan cara syrak. Dengan merahasiakan pernikahannya  dengan sangat hati-hati ibu mariah menjalankan usahanya, agar hasrat kedua merpati itu terlaksana dengan tiada menimbulkan huru-hara, baik tentang perkara adat, maupun perkara agama.
Pengarang memberi gambaran tentang kehidupan/ adat yang terjadi di masyarakat minang namun konflik disini terjadi bukan hanya di adat minang saja namun kenyataannya di kehidupan kita pun pernah terjadi. Disini terlihat betapa kentalnya adat minang yang tidak memperbolehkan menikah dalam satu suku, apalagi satu sama lain memiliki ikatan hubungan keluarga meskipun hanya dalam ikatan persaudaraan  secara angkat tetapi itu semua yang melatarbelakangi Asnah dan Asri ingin dikeluarkan dari adatnya. Selain itu juga terdapat amanat yang menyatakan bahwa menilai seseorang itu jangan hanya dari luarnya saja namun harus dari dalamnya, dan ketika memilih calon pendamping hidup jangan lah terburu-buru pikirkanlah secara matang sebelum mengambil keputusan karena kitalah yang akan menangung akibatnya sehingga terjadi “salah pilih”  yang telah dirasakan oleh tokoh Asri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar