Senin, 01 April 2013

makalah menulis argumentasi


Pendahuluan

Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif, sehingga penulis mampu memanfaatkan kemampuan dalam menggunakan tata bahasa, struktur bahasa  dan  kosa kata. Tujuan menulis adalah menyampaikan pesan kepada pembaca. Bila tidak dibaca, kegiatan menulis itu sia-sia. Mengajar menulis antara lain adalah membangun kesadaran bahwa menulis itu bergantung pada pembaca (reader dependent) dan kualitas respon pembaca menentukan keberhasilan komunikasi tulis. Belajar menulis ibarat seperti belajar keterampilan lain yang berubah dari mudah ke sulit, dari sini ke sana, dari sekarang ke nanti. Karena itu apa yang pertama ditulis adalah diri sendiri, rumah sendiri, keluarga sendiri dan seterusnya.
Menulis hasil penelitian dengan menggunakan sistematika argumentasi adalah langkah yang baik untuk menulis karangan argumentasi. Dasar sebuah tulisan yang bersifat argumentatif adalah berpikir kritis dan logis. Untuk itu ia harus bertumpu pada bukti-bukti  atau evidensi yang dapat dijalin dalam metode-metode sebagaimana dipergunakan juga oleh eksposisi. Tetapi dalam ber-argumentasi terdapat motivasi yang lebih kuat. Eksposisi  hanya memerlukan kejelasan, sebab itu fakta-fakta dipakai hanya seperlunya. Namun argumentasi, di samping memerlukan kejelasan, keyakinan dengan perantara fakta – fakta / bukti-bukti itu, untuk itu kelompok kami akan menjelaskan karangan argumentasi sebagai penyelesaian tugas menulis 1. 




PEMBAHASAN
A.    Pengertian karangan argumentasi
Banyak ahli yang mengemukakan pendapat mengenai karangan argumentasi, seperti Aceng Hasani, Keraf, dan Alwasilah. Di bawah ini pemaparan karangan argumentasi menurut para ahli di atas.
Menurut Aceng Hasani (2005:43) bahwa karangan argumentasi adalah suatu jenis karangan yang berusaha mempengaruhi orang lain dengan cara menyajikan bukti-bukti sebagai penguat argumentasi yang dinyatakan secara logis dan faktual dengan tujuan pembaca atau pendengar tertarik dengan yang dikemukakan oleh penulis.
Keraf (1997:99) mengemukakan bahwa argumentasi adalah suatu retorika  yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka  itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan penulis atau pembicara. Melalui argumentasi penulis berusaha merangkaikan fakta-fakta sedemikian rupa, sehingga ia mampu menunjukkan apakah suatu pendapat atau suatu hal tertentu itu benar atau tidak.
Ahli lain, yaitu  Alwasilah (2005:116) mengemukakan bahwa argumentasi   adalah karangan yang membuktikan kebenaran atau ketidakbenaran dari sebuah   pernyataan (statement). Menurutnya argumen tidak berarti pertengkaran. Dalam   teks argumen penulis menggunakan berbagai strategi atau piranti retorika untuk meyakinkan pembaca ikhwal kebenaran atau ketidakbenaran itu.
           Beranjak dari definisi di atas. Menurut Keraf (1997:4), dasar sebuah tulisan yang bersifat argumentatif adalah berpikir kritis dan logis. Untuk itu ia harus bertolak dari fakta-fakta atau evidensi-evidensi yang ada. Dalam argumentasi terdapat motivasi yang lebih kuat, di samping memerlukan kejelasan, argumentasi    juga memerlukan keyakinan dengan perantaraan fakta-fakta itu. Dengan fakta   yang benar, ia dapat merangkaikan suatu penuturan yang logis menuju kepada suatu kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan. Seseorang yang kurang hati-hati dan tidak cermat menganalisa data-data tersebut, dapat mengagalkan seluruh usaha pembuktiannya.
Dilihat dari ketiga pandangan di atas mengenai karangan argumentasi, terdapat persamaan yaitu mengenai pengertian karangan argumentasi yang telah dipaparkan oleh Aceng Hasani dan Keraf, bahwa karangan argumentasi merupakan jenis karangan yang berusaha mempengaruhi orang lain. Berbeda dengan Alwasilah yang berpendapat bahwa karangan argumentasi merupakan karangan yang membuktikan kebenaran atau ketidakbenaran dari sebuah pernyataan dengan menggunakan berbagai strategi untuk meyakinkan pembaca.
Menurut para ahli di atas karangan argumentasi ditulis dengan maksud   untuk memberikan alasan, untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian atau gagasan. Berdasarkan pemaparan semua ahli di atas, dapat   disimpulkan bahwa karangan argumentasi  merupakan suatu bentuk komunikasi tidak langsung melalui media tulisan yang bersifat memberikan pandangan dan memposisikan diri untuk meyakinkan orang lain. Proses meyakinkan pandangan yang dituangkan dalam argumentasi adalah dengan cara menghadirkan evidensi   atau pembuktian yang relevan dan merupakan rujukan pada pembaca agar percaya dengan apa yang penulis paparkan dengan mengajukan bukti-bukti yang mendukung kebenaran tulisan tersebut.
Pada dasarnya kekuatan argumen terletak pada kemampuan penulis dalam mengemukakan tiga prinsip, yaitu pernyataan, alasan yang mendukung dan pembenaran. Daud  (2004: 25)
-             pernyataan mengacu penentuan posisi dalam masalah yang masih kontroversional
-             alasan mengacu pada usaha untuk mempertahankan pernyataan dengan meberikan alasan-alasan atau bukti yang sesuai
-             pembenaraan mengacu pada usaha dalam menunjukkan hubungan antara pernyataan dan alasan
B.           Karakteristik Karangan Argumentasi
Lamuddin (249:2009) Tulisan argumentatif memiliki beberapa karakteristik yaitu:
1) Berisi argumen sebagai upaya pembuktian suatu pendapat atau sikap.
2) Bertujuan meyakinkan pembaca agar mengikuti apa yang dikemukakan peneliti
3) Menggunakan logika atau penalaran sebagai landasan berpikir.
4) Bertolak dari fakta-fakta atau evidensi-evidensi.
Evidensi adalah unsur yang terpenting dalam karangan argumentasi.   Pada hakikatnya evidensi adalah semua fakta yang ada, semua kesaksian, semua informasi atau semua otoritas dan sebagainya yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan suatu kebenaran. Fakta dalam kedudukan evidensi ini tidak boleh  dicampur adukkan dengan yang kita kenal pernyataan atau penegasan. Dalam wujud yang paling rendah, evidensi ini berbentuk data atau informasi yang didapat dari suatu sumber tertentu (Keraf, 1997:9).
5)  Bersifat mendesakkan pendapat atau sikap kepada pembaca.
6)  Merupakan bentuk retorika yang sering digunakan dalam tulisan-tulisan
     ilmiah.
7)  Menggunakan bahasa yang bersifat rasional dan objektif dengan kata-kata
     bermakna lugas atau denotatif.
C.                 Syarat-syarat dan Pertimbangan Menulis Karangan Argumentasi
Dalam menulis suatu tulisan argumentatif, terdapat beberapa syarat yang harus diperhatikan. Syarat-syarat tersebut, di antaranya sebagai berikut:
1) Harus mengetahui benar pokok persoalan yang akan di argumentasikan berikut argumen-argumennya.
2) Harus berusaha mengemukakan permasalahan dengan sejelas-jelasnya sehingga mudah dipahami pembaca.
3) Argumentasi harus mengandung kebenaran untuk mencapai hasil karangan yang logis dan benar.
4)  Evidensi baik  berupa bukti, contoh, maupun alasan-alasan harus dikemukakan   berdasarkan logika atau penalaran budi akal sehingga tersusun sebuah karangan argumentasi yang logis dan sistematis.
Syarat-syarat di atas diperkuat oleh pendapat Alwasilah (2005:116) bahwa     argumen mengandalkan berbagai jenis appeal, yakni banding atau pertimbangan.   Jenis-jenis appeal yang lazim dipakai para penulis menurutnya adalah sebagai berikut:
a)      Appeal to the writer’s own credibility (authority)
Pertimbangan kreadibilitas atau otoritas kepakaran sang penulis dengan menunjukkan dirinya menguasai (tahu banyak) ikhwal suatu persoalan dengan tetap menghargai pandangan pembaca.
b)      Appeals to empirical data
Pertimbangan data empiris (data yang diperoleh melalui pengalaman, pengamatan atau penelitian) dengan menyajikan data primer atau sekunder untuk memperkuat argumen.
-          Data sekunder ialah bukti teoritik yang diperoleh melalui studi pustaka.
-          Data primer adalah bukti penulisan yang diperoleh dilapangan yang dilakukan secara langsung oleh penulisnya. Untuk pembuktian suatu kasus penulisan ilmiah (laporan), penulis harus mengumpulkan data atau informasi secara cermat dan tuntas. Jika data tidak lengkap kesimpulan yang dihasilkan tidak valid (tidak sah). Selain itu data juga harus diuji kebenaran dan keabsahannya. Oleh karena itu, sebelum digunakan dalam karangan data harus diuji atau di evaluasi kebenaranya sehingga diketahui secara pasti data itu merupakan fakta. Data dapat diuji dengan wawancara, angket, observasi/penelitian lapangan, atau penelitian kepustakaan.
c)      Appeals to reason (logical appeals)
Pertimbangan nalar atau logika, yakni bernalar dengan tepat ketika mengajukan pendapat disertai bukti-bukti yang meyakinkan. Dengan menghubungkan pengamatan (observasi berdasarakan data empirik) dengan kejadian-kejadian yang ada di dunia ini. Kemudian, pengamatan dan kejadian tersebut menjadi suatu konsep dan pengertian baru. Kemudian dilanjutkan dengan proses berpikir logis yang diawali dengan observasi data, pembahasan, dukungan pembuktian, dan diakhiri kesimpulan.
d)  Appeals  to  the   reader’s   emotions,   values,   or   attitudes   (pathetic   or   affective appeals)
Yaitu pertimbangan nilai-nilai, emosi, dan sikap dengan memilih contoh-contoh yang memunculkan isu-isu yang diharapkan dapat meluluhkan perasaan pembaca dengan menggunakan bahasa yang kaya makna konotatifnya.
Menurut Alwasilah (2005:117), keempat pertimbangan tersebut harus digunakan secara proporsional. Jika yang di andalkan adalah pertimbangan otoritas atau kreadibilitas diri, maka kesan yang muncul adalah bahwa   penulis tidak peduli dengan emosi pembaca atau seolah-olah melupakan   bahwa pembaca juga mampu bernalar. Di samping itu, jika terlalu  mengandalkan pertimbangan logika, akan membuat tulisan menjadi berdarah dingin, kaku, kejam, dan tak bernurani. Sebaliknya, jika terlalu   mengandalkan pertimbangan nurani pembaca membangun kesan bahwa penulis lembek, tak berpendirian dan mudah terbawa angin.

D.    Komponen dalam Karangan Argumentasi
Keraf (1997:104-107) mengemukakan bahwa dalam argumen terdiri atas tiga komponen, yaitu:
a)                  Pendahuluan
Pendahuluan tidak lain dari pada menarik minat pembaca, memusatkan perhatian pembaca kepada argumen-argumen yang akan disampaikan serta menunjukkan dasar-dasar mengapa argumentasi itu harus dikemukakan dalam kesempatan tersebut. Secara ideal pendahuluan harus mengandung cukup banyak bahan untuk menarik perhatian  pembaca yang tidak ahli sedikit pun, serta memperkenalkan kepada pembaca fakta-fakta pendahuluan yang perlu untuk memahami argumentasinya.
b)                  Tubuh argumen
Seluruh   proses   penyusunan   argumen   terletak   pada   kemahiran   dan   keahlian penulisnya. Selama menggarap argumentasinya, pengarang     harus   terus menerus menempatkan dirinya dipihak pembaca.
c)                  Kesimpulan dan ringkasan
Dengan tidak mempersoalkan topik mana yang dikemukakan dalam argumentasi, pengarang harus menjaga agar konklusi yang   disimpulkannya tetap memelihara tujuan dan menyegarkan kembali ingatan pembaca tentang apa yang telah dicapai  dan  mengapa konklusi-konklusi itu diterima sebagai sesuatu yang logis.   Dalam tulisan-tulisan   biasa, dimana tidak boleh dibuat kesimpulan-kesimpulan, maka dapat dibuat ringkasan dari pokok-pokok yang penting sesuai dengan urutan argumen-argumen dalam tubuh karangan itu.
E.     Dasar dan sasaran Karangan Argumentasi

Dengan mempergunakan prinsip-prinsip logika sebagai alat bantu utama, maka argumentasi atau tulisan argumentatif yang ingin mengubah sikap dan pendapat orang lain bertolak dari dasar-dasar tertentu, menuju sasaran yang hendak dicapainya. Dasar yang harus diperhatikan sebagai titik tolak argumentasi adalah:
1.      Pengarang harus mengetahui serba sedikit tentang subyek yang akan dikemukakannya, sekurang-kurangnya mengenai prinsip-prinsip ilmiahnya.
2.      Pengarang harus bersedia mempertimbangkan pandangan-pandangan atau pendapat-pendapat yang bertentangan dengan pendapatnya sendiri.

Disamping kedua prinsip di atas, penulis atau pembicara harus memperlihatkan pula ketiga prinsip tambahan berikut:
1.      Penulis argumentasi harus berusaha untuk mengemukakan pokok persoalannya dengan jelas; ia harus menjelaskan mengapa ia harus memilih topik tersebut. Sementara itu ia harus mengemukakan pula konsep-konsep dan istilah-istilah yang tepat.
2.      Penulis harus menyelidiki persyaratan mana yang masih diperlukan bagi tujuan-tujuan lain yang tercakup dalam persoalan yang dibahas itu, dan sampai di mana kebenaran dari pernyataan yang telah dirumuskannya itu.
3.      Dari semua maksud dan tujuan yang terkandung dalam persoalan itu, maksud yang mana yang lebih memuaskan penulis untuk menyampaikan masalahnya.

Di samping prinsip-prinsip yang harus diperhatikan, penulis selalu berusaha pula untuk membatasi persoalannya, dan menetapkan di mana terletak titik atau sasaran ketidaksesuaian pendapat antara pengarang dan pembaca. Dengan demikian ia dapat mengubah keyakinan atau mempengaruhi sikap dan tindakan pembaca.
Untuk membatasi persoalan dan menetapkan titik ketidaksesuaian, maka sasaran yang harus ditetapkan untuk di amankan oleh setiap pengarang argumentasi adalah:
a.       Argumentasi itu harus mengandung kebenaran untuk mengubah sikap dan keyakinan orang mengenai topik yang akan diargumentasikan.
b.      Pengarang harus berusaha untuk menghindari setiap istilah yang dapat menimbulkan prasangka tertentu.
c.       Sering timbul ketidaksepakatan dalam istilah-istilah.
d.      Pengarang harus menetapkan secara tepat titik ketidaksepakatan yang akan diargumentasikan.

F.     Langkah-Langkah Menyusun Karangan Argumentasi
Penyusunan atau penulisan karangan argumentasi dapat dilakukan dengan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1)    Memilih dan menentukan pokok permasalahan.
2)  Merumuskan pokok permasalahan dengan kalimat yang jelas dan membuat garis besar.
3)   Menetapkan tujuan.
4)   Mengumpulkan bahan-bahan yang berupa fakta, keterangan, kesaksian   orang lain, atau para ahli.
5)   Mempelajari pustaka dan mencatat kutipan.
6) Menganalisis, menguji, membandingkan, menghubungkan (fakta, keterangan, kesaksian, catatan, kutipan) menguraikan, menyusun keterangan dengan menarik dan  logis, serta membuat kesimpulan atau ringkasan.
7)  Membaca ulang naskah karangan argumentasi demi perbaikan dan penyempurnaan.
E.  Persamaan argumentasi dengan eksposisi:
Semi (74:2007) Karangan argumentasi dengan karangan eksposisi terdapat persamaan, di antaranya yaitu:
1.     Argumentasi dan eksposisi sama-sama menjelaskan pendapat, gagasan, dan keyakinan penulis
2.     Keduanya memerlukan analisis dan sintesis
3.     Sumber gagasan dapat berasal dari pengalaman, penelitian, serta sikap dan keyakinan (daya khayal jarang digunakan sebagai sumber gagasan)
4.     Keduanya menggunakan fakta atau data yang berupa angka, peta, statistik, atau gambar.




F.  Perbedaan karangan argumentasi dengan karangan eksposisi

Bagian Karangan
Argumentasi
Eksposisi
Pembuka atau pendahuluan
Menarik perhatian pembaca pada persoalan yang akan dikemukakan.
Memperkenalkan kepada pembaca tentang topik yang akan dipaparkan dan tujuan paparan tersebut.
Tujuan
Meyakinkan pembaca.
Memberi informasi atau menjelaskan kepada pembaca agar pembaca memperoleh gambaran yang jelas.
Penggunaan data, contoh, gambar, dsb
Untuk membuktikan bahwa apa yang dikemukakan penulis dalam tulisan itu benar.
Untuk lebih menjelaskan atau memperjelas isi karangan.
Penutup
Menyimpulkan apa yang telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya.
Menegaskan lagi apa yang  telah diuraikan sebelumnya.
Catatan:
1.      Bagian pembuka dan penutup argumentasi tidak boleh terlalu panjang.  Pada bagian pembuka dapat disampaikan latar belakang timbulnya
masalah, sistematika yang digunakan dan tujuan argumentasi itu ditulis.
2.      Kesimpulan yang dikemukakan harus benar dan ditarik dari uraian
sebelumnya dan tidak boleh menyimpang.
3.      Apabila masalah yang dikemukakan perlu pemecahan, dapat disampaikan saran atau usul setelah kesimpulan.
4.      Penutup tidak harus berupa kesimpulan, tetapi dapat pula berupa ringkasan
 mengenai apa yang telah dikemukakan sebelumnya.

Dari beberapa ahli di atas dapat disimpulan bahwa cara membuat karangan argumentasi yang baik harus  memperhatikan hal-hal berikut:
1.     Berpikir sehat, kritis dan logis
2.     Mampu mencari, mengumpulkan, memilih fakta yang sesuai dengan tujuan dan topik, serta mampu merangkaikannya untuk membuktikan  keyakinan atau pendapat kita
3.     Menjauhkan emosi dan subjektivitas
4.     Mampu menggunakan bahasa secara baik dan benar, efektif, dan tidak menimbulkan salah penafsiran.

Contoh Karangan Argumentasi

Televisi telah mendatangkan banyak perdebatan yang tidak kunjung berakhir. Bagi orang dewasa, mungkin apa yang ditampilkan oleh televisi itu bukanlah sebuah masalah besar, sebab mereka sudah mampu memilih, memilah dan memahami apa yang ditayangkan dilayar televisi. Namun bagaimana dengan anak-anak? Dengan segala kepolosan yang dimilikinya, belum tentu mereka mampu menginterpretasikan apa yang mereka saksikan dilayar televisi dengan tepat dan benar. Padahal Keith W. Mielke sebagaimana dikutip oleh Arini Hidayati dalam bukunya berjudul ‘Televisi dan Perkembangan Sosial Anak’ mengatakan bahwa: “Masalah paling mendasar bukanlah jumlah jam yang dilewatkan si anak untuk menonton televisi, melainkan program-program yang ia tonton dan bagaimana para orang tua serta guru memanfaatkan program-program ini untuk sedapat mungkin membantu kegiatan belajar mereka.”(1998:74).
Kutipan tersebut di atas jelas bahwa yang harus diwaspadai oleh para guru dan orang tua adalah acara apa yang ditonton anak di televisi itu dan bukannya berapa lama anak menonton televisi. Padahal kecenderungan yang ada justru sebaliknya. Orang tua jarang benar-benar memperhatikan apa yang ditonton anak-anaknya dan lebih sering melarang anak-anak agar jangan menonton televisi terlalu lama karena bisa mengganggu jam belajar mereka. Di samping itu, apakah pernah pula terbersit dalam benak orang tua untuk ikut menonton tayangan-tayangan televisi yang diklaim sebagai tayangan untuk anak-anak? Pernahkan orang tua memperhatikan, apakah tayangan untuk anak itu memang sesuai dengan usianya? Padahal disinilah peran orangtua menjadi sangat penting artinya. Orang tualah yang menjadi guru, pembimbing, pendamping dan pendorong pertumbuhan anak yang paling utama. Dari orangtualah anak pertama kali belajar tentang sesuatu kebenaran dan kemudian menanamkan kepercayaan atas kebenaran itu.
Sudah menjadi tanggung jawab orang tua pula untuk selalu mendampingi anak-anak dalam menonton televisi, memberikan pengertian dan penjelasan atas apa yang tidak dimengerti oleh anak-anak. Memberikan penjelasan kenapa suatu tindak kekerasan bisa terjadi dan apa akibat dari semua itu. Orang tua juga harus jeli dalam melihat program-program acara televisi yang ditonton oleh anak. Apakah cocok dengan usianya, apakah bersifat mendidik atau justru malah merusak moral si anak. Mungkin sebagai orang tua, tidak akan kesulitan untuk langsung melarang seorang anak untuk menonton film-film dewasa yang mengandung unsur seks dan kekerasan secara vulgar, karena dengan memandang sepintas lalu saja sudah jelas diketahui bahwa acara tersebut tidak cocok untuk anak. Tetapi pernahkah orangtua mengamati film-film kartun yang kelihatannya memang sudah layak menjadi konsumsi anak-anak? Pernahkah orang tua peduli bahwa berbagai tayangan film kartun Jepang yang mempertontonkan heroisme, seperti film seri Kenji, Dragon Ball dan sebagainya telah menyebabkan seorang anak menjadi seorang yang agresif? Demikian pula dengan tayangan film-film kartun yang penuh romantisme seperti Sailor Moon? Dan bagaimana pula dengan film-film yang lain? Sebuah penelitian menyebutkan bahwa tingkat pornografi pada film kartun anak-anak itu cukup tinggi, dan di antara film-film kartun anak di Asia, film kartun produksi Jepang menempati posisi paling tinggi dalam penayangan unsur pornografi. Sebagai contoh, Film Seri Crayon Sinchan yang sekarang begitu di gemari di Indonesia, ternyata di Jepang sendiri film tersebut tidak diperuntukkan untuk konsumsi anak-anak melainkan untuk konsumsi orang dewasa yang ingin kembali ke masa kanak-kanak. Akibatnya saat ini muncul perdebatan yang cukup seru dalam membahas masalah film seri Crayon Sinchan ini.
Sebuah tulisan di Jawa Pos yang mengetengahkan keprihatinan terhadap film tersebut mengatakan bahwa “Sosok sinchan itu tidak cocok untuk menjadi teladan bagi anak-anak. Sinchan sering bertindak kurang ajar dan kekurang ajarannya itu sering mengarah ke masalah seks. Sebagai anak kecil, Sinchan sering bermimpi tentang perempuan - perempuan dengan bikini dan ia pun senang sekali menyingkapkan rok ibunya”.
Memang dikatakan oleh Joseph T. Klapper  “bahwa media bukanlah penyebab perubahan satu-satunya melainkan ada faktor-faktor lain yang menengahi (mediating factors)”. Namun bagaimanapun juga, jika mengacu pada teori efek media maka terdapat teori Belajar, dimana seseorang itu belajar melakukan sesuatu dari media. Seorang anak bisa dengan fasihnya menirukan ucapan atau lagu-lagu yang di dengarnya di televisi. Mereka pun dengan segala kepolosan dan keluguannya sering pula menirukan segala gerak dan tingkah laku tokoh idolanya di televisi. Dengan demikian tidaklah mustahil jika anak-anak pun akan menirukan kenakalan Sinchan dengan segala kekurang ajarannya. Atau menirukan tindakan Superman ketika menumpas kejahatan dengan memukuli anak lain yang di anggapnya sebagai musuh. Dan ini menjadi langkah pembenar setiap anak-anak berbuat sesuatu, yang bisa jadi melanggar norma umum yang ada di tengah masyarakat kita.
Langkah Antisipasi bagaimanapun juga kehadiran televisi merupakan sebuah kebutuhan, tidak sekadar sebagai sarana untuk memudahkan kita mengakses setiap informasi tapi juga berperan sebagai sarana penghibur yang mudah untuk kita dapatkan. Tetapi, tetap saja efek negatif selalu ada dan ini perlu untuk di antisipasi secara serius. Apalagi kalau yang terkena dampaknya adalah anak-anak yang notabene mereka akan menjadi iron stock di masa datang.
Secara khusus penulis berharap orang tua yang secara langsung berhubungan dan berkaitan dengan pengaruh televisi terhadap anak-anak bisa mengambil langkah-langkah nyata. Walaupun tidak menutup kemungkinan memberikan alternatif solusi terhadap pihak terkait seperti pihak media televisi dan para pemerhati media secara umum. Pertama, jelas perlu ada sosialisasi secara massif kepada para orang tua tentang bahaya program yang ada di televisi pada setiap media yang ada, termasuk koran ini dan juga diperlukan kewaspadaan yang penuh dengan tidak membiarkan anak-anak menonton televisi dengan bebas. Meskipun label pihak televisi yang diberikan adalah acara untuk anak. Kedua, perlu penjagaan program acara televisi secara langsung dengan cara mendampingi waktu anak-anak menonton televisi dan sekaligus bisa memberi penjelasan saat dibutuhkan. Untuk itu, kesiapan orang tua untuk mendampingi di tengah kesibukan seabrek kegiatan mutlak diperlukan. Ketiga, perlu di upayakan pemberdayaan masyarakat dengan di adakan lembaga kontrol yang bisa memberi masukan dan kajian kritis tentang isi program siaran televisi dan dampak yang ada.









Penilaian Karangan Argumentasi secara Analitik
Aspek –aspek
Presentase
-          Bukti – bukti
-          Pertimbangan kredibilitas atau otoritas
-          Pertimbangan nalar atau  logika
-          Pertimbangan emosi pembaca
-          Pertimbangan data empirik
-          Mekanik
-          Konklusi(simpulan keseluruhan)
30%
15%
20%
10%
15%
5%
5%
Jumlah
100%

Dapat disimpulkan bahwa, presentase yang tertinggi dalam karangan argumentasi di atas yaitu Bukti-bukti dengan besar presentase 30%. Karena bukti-bukti merupakan hal yang paling pokok yang harus ada dalam suatu karangan argumentasi agar memperkuat argumennya dan  pembaca merasa yakin dengan argumen tersebut.


















KESIMPULAN

Karangan argumentasi adalah karangan yang membuktikan kebenaran atau ketidak-benaran dari sebuah pernyataan (statement), yang bertujuan meyakinkan atau membujuk pembaca tentang kebenaran pendapat penulis. Karya tulis argumentas pada dasarnya merupakan bagian dari karya eksposisi, sifat – sifat karya eksposisi ada pada argumentasi. Sifat khusus yang dimilikinya, yaitu untuk meyakinkan atau membujuk pembaca agar menerima pandangan penulis, maka karya eksposisi semacam ini dinamakan argumentasi.
Dalam karangan argumentasi, penulis harus mengetahui secara jelas tentang subjek yang akan diteliti, sekurang-kurangnya mengenai prinsip-prinsip ilmiahnya. Penulis harus bersedia mempertimbangkan pendapat-pendapat sendiri sehingga dapat memperkuat informasi yang dia butuhkan, yang ketiga harus mengandung arti, bahwa karangan argumentasi harus mengemukakan persoalan secara jelas.











DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku :
Semi, Atar. 2007. Dasar-dasar keterampilan menulis. Bandung: Angkasa
Keraf, Gorys. 1997. Argumentasi dan Narasi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Hasani, Aceng. 2003. Diktat Menulis Kreatif. Serang : Untirta Press
Alwasilah, A. Chaedar. 2005. Pokoknya Menulis. Cetakan Pertama. Bandung : PT. Kiblat Buku Utama
Finoza, Lamuddin.2009. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta:Diksi Insan Mulia
Daud, 2004. Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta : Erlangga

Sumber Internet :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar