Minggu, 28 April 2013

kajian puisi intertekstual


Puisi “Cinta Paksaan”  (Karya Riatun)
Kau hipnotis aku dengan nada – nada indahmu
Mengalun sempurna di telingaku
Tersekap aku dalam kelabu biru
Berenda rindu yang kau rajut untukku
Membujuk dengan seribu rayu
Menggebu-gebu kian waktu kian menderu
Matilah aku!
Kau siram aku untuk bermandikan hasrat dan nafsu
Tanpa kusadari, kau membawaku ke tempat yang takbertuan
Gelap gulita tanpa tanda dan arah
Di mana kau bawa aku berkubang kenistaan?
Khayalan semu hanya membuatku semakin tak bermoral
Rayuan duniawi yang menyesatkan
Hingga kau hindarkan cinta karena paksaan

a.    Analisis Sistem Tanda yang Digunakan Pengarang              
Pada puisi di atas bila diperhatikan terdapat paparan gagasan dalam komunikasi keseharian, namun jika ditinjau lebih lanjut dalam setiap kata, larik, bait dan tanda yang digunakan tentulah memiliki beban maksud penutur. Misalnya pada larik kau hipnotis aku dengan nada-nada indahmu”dapat diartikan gagasan bahwa dengan tidak sadar dia telah terbuai oleh ucapan-ucapan manis. Penggunaan lambang hipnotis lebih mengacu pada pernyataan terbuai atau tak sadarkan diri di sini pengarang ingin memberikan efek bahwa di telah diracuni ucapan-ucapan manis dari bibir seseorang.


bAnalisis Gaya Pemilihan Kata
Gaya pemilihan kata pada dasarnya digunakan pengarang untuk memberikan efek tertentu serta untuk penyampaian gagasan secara tidak langsung sehingga memiliki kekhasan tersendiri. Pada puisi Cinta Paksaan terdapat manipulasi penggunaan kata misalnya pada larik “Kau siram aku untuk bermandiakan hasrat dan nafsu” pemilihan kata “bermandikan hasrat dan nafsu” dapat diartikan sebagai bentuk pernyataan bahwa  di telah di racuni untuk melakukan sesuatu hal yang negatif (tidak sewajarnya)”. Selain itu gaya pemilihan kata terdapat pada larik “ rayuan duniawi yang menyesatkan” dapat di artikan bahwa godaan setan yang menjebaknya dalam urusan cinta hingga berujung menyesatkan.
cAnalisis Penggunaan Bahasa Kias
Bahasa kias merupakan penggantian kata yang satu dengan kata yang lain berdasarkan perbandingan ataupun analogi ciri semantis yang umum dengan umum,yang umum dengan yang khusus ataupun yang khusus dengan yang khusus. Perbandingan ataupun analogi tersebut berlaku secara proporsional, dalam arti perbandingan itu memperhatikan potensialitas kata-kata yang dipindahkan dalam menggambarkan citraan maupun gagasan baru.
1.      Personifikasi
Personifikasi adalah majas kiasan yang menggambarkan benda-benda mati seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Personifikasi (penginsanan) merupakan suatu corak khusus dari metafora, yang mengiaskan benda-benda mati bertindak, berbuat, berbicara seperti manusia. Majas Personifikasi terdapat dalam puisi “Cinta Paksaan” yaitu pada larik kau hipnotis aku dengan nada-nada indahmu // mengalun sempurna di telingaku // tersekap aku dalam kelambu biru // . Kata “nada-nada, telingaku, kelambu” ini merupakan benda mati namun oleh si penulis di gambarkan seoalah-olah hidup.
1.       Hiperbola
Hiperbola adalah majas yang membuat sesuatu yang dikiaskannya menjadi sangat berlebihan. Majas hiperbola terdapat dalam puisi cinta Paksaan yaitu pada larik membujuk dengan seribu rayu // menggebu-gebu kian waktu kian menderu // kau siram aku untuk bermandikan hasrat dan nafsu // rayuan duniawi yang menyesatkan//.
2.      Perbandingan
Majas perbandingan adalah kiasan yang tidak langsung, artinya di antar sesuatu yang dikiaskannya ada banyak digunakan kata-kata penghubung perbandingan. Majas perbandingan terdapat dalam puisi Cinta Paksaan yaitu pada larik “khayalan semu hanya membuatku semakin tak bermoral” di sini penulis menjelaskan bahwa bayang-bayang yang membuatnya menjadi bodoh.
dPengimajian
Ada hubungan erat antara diksi, pengimajian dan data konkret. Diksi yang dipilih harus menghasilkan pengimajian dan karena itu kata-kata menjadi lebih konkret seperti kita hayati melalui penglihatan, pendengaran atau cita rasa.
Baris-baris puisi Cinta Paksaan yaitu kau siram aku untuk bermandikan hasrat dan nafsu // rayuan duniawi yang menyesatkan //  menunjukkan adanya pengimajian secara Taste Imagery (yaitu melukiskan sesuatu melalui imaji rasa ). Selain itu pada larik mengalun sempurna ditelingaku // khayalan semu hanya membuatku semakin tak bermoral // menunjukan citrana (imaji) rasa.
e. Analisis penggunaan bunyi
Pada kutipan puisi Cinta Paksaan terdapat kesamaan rima yakni pada kata “indahmu” yang terdapat dalam baris ke-1,“telingaku” pada baris ke-2, “biru” pada baris ke-3, baris ke-4 pada kata “untuku”, baris ke-5 pada kata “rayu” dan baris ke-6 pada kata “menderu”
f. Analisis Makna puisi
Pada puisi Riatun gagasan yang ingin disampaikan dalam puisi “Cinta Paksaan” adalah pada larik  // Kau hipnotis aku dengan nada – nada indahmu / Mengalun sempurna di telingaku // di asosiasikan bahwa merayu dengan kata-kata gombal hingga terdengar sempurna dalam telinga. Tersekap aku dalam kelambu biru / membujuk dengan seribu rayu// di asosiasiakan dengan terjebak oleh ajakan yang menyesatkan sehingga masuk dalam lubang yang salah, Kau siram aku untuk bermandikan hasrat dan nafsu / khayalan semu hanya membuatku semakin tak bermoral // di asosiasikan sebagai perbutaan yang sangat keji dengan bayang-bayang kenistaan hingga berperilaku seperti binatang,  rayuan duniawi yang menyesatkan / hingga kau hadirkan cinta karena paksaan // rayuan di asosiasikan sebagai suatu pernyataan yang salah sehingga berakhir dengan keterpaksaan cinta.

Puisi  “Awan” (Karya Yeti Sumarwah)
Bersinar
Putih menggumpal, berangsur menjalar
Membuka tabir di tengah cakrawala
Matahari mengintip-mengintip
Berebut tempat di langit
Takpernah hari tampak seindah ini
Barisan manusia berlari-lari
Jelajahi waktu, menapaki hari
Kehidupan bagai cerita
Takpernah habis, hanya peran yang berganti
Di alamku awan takbegitu bersinar
Menyelimuti langit yang akan segera diguyur hujan

a.    Analisis Sistem Tanda yang Digunakan Pengarang              
Pada puisi di atas bila diperhatikan terdapat paparan gagasan dalam komunikasi keseharian, namun jika ditinjau lebih lanjut dalam setiap kata, larik, bait dan tanda yang digunakan tentulah memiliki beban maksud penutur. Misalnya pada larik Di alamku awan takbegitu bersinar”dapat diartikan gagasan bahwa “langit di sekitar rumahnya sedang mendung. Serta penggunaan lambang takbegitu biasanya mengacu pada sesuatu pernyataan antara iya dan tidak (samar-samar) di sini pengarang ingin memberikan efek pada awan tak begitu bersinar maka makna tersebut mengartikan bahwa langit akan di guyur hujan.
bAnalisis Gaya Pemilihan Kata
Gaya pemilihan kata pada dasarnya digunakan pengarang untuk memberikan efek tertentu serta untuk penyampaian gagasan secara tidak langsung sehingga memiliki kekhasan tersendiri. Pada puisi Awan terdapat manipulasi penggunaan kata misalnya pada larik “Putih menggumpal, berangsur menjalar, matahari mengintip-mengintip, berebut tempat di langit” pemilihan kata pada paparan di atas dapat diartikan sebagai bentuk pernyataan  bahwa langit sedang ditutupi awan yang menyebar sehingga tak ada tempat untuk matahari bersinar.
cAnalisis Penggunaan Bahasa Kias
Bahasa kias merupakan penggantian kata yang satu dengan kata yang lain berdasarkan perbandingan ataupun analogi ciri semantis yang umum dengan umum,yang umum dengan yang khusus ataupun yang khusus dengan yang khusus. Perbandingan ataupun analogi tersebut berlaku secara proporsional, dalam arti perbandingan itu memperhatikan potensialitas kata-kata yang dipindahkan dalam menggambarkan citraan maupun gagasan baru.
1.      Personifikasi
Personifikasi adalah majas kiasan yang menggambarkan benda-benda mati seolaholah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Personifikasi (penginsanan) merupakan suatu corak khusus dari metafora, yang mengiaskan benda-benda mati bertindak, berbuat, berbicara seperti manusia. Majas Personifikasi terdapat dalam puisi “Awan” yaitu pada larik “ matahari mengintip-mengintip”. Kata “matahari” ini menjelaskan bahwa benda mati “matahari” seolah-olah hidup dengan di ikuti kata mengintip-mengintip, jadi seakan-akan matahari itu benar-benar mengintip.
2.      Hiperbola
Hiperbola adalah majas yang membuat sesuatu yang dikiaskannya menjadi sangat berlebihan. Majas hiperbola terdapat dalam puisi Awan yaitu pada larik “ berebut tempat dilangit”. Kalimat “berebut tempat dilangit” menunjukan sesuatu yang berlebihan, jika kita pikirkan apakah ada sesutu yang berebut tempat dilangit, mungkin pernyataan itu tidak masuk diakal atau di luar logika pasti setiap orang mempersepsinya akan berbeda-beda.
3.      Perbandingan
Majas perbandingan adalah kiasan yang tidak langsung, artinya di antar sesuatu yang dikiaskannya ada banyak digunakan kata-kata penghubung perbandingan. Majas perbandingan terdapat dalam puisi Awan yaitu pada larik “ kehidupan bagai cerita” di sini penuis menjelaskan bahwa kehidupan itu seperti cerita yang tak tahu ujungnya. Kalimat ini membandingakn suatu  kehidupan bagaikan cerita yang tak berujung.
d.  Pengimajian
Ada hubungan erat antara diksi, pengimajian dan data konkret. Diksi yang dipilih harus menghasilkan pengimajian dan karena itu kata-kata menjadi lebih konkret seperti kita hayati melalui penglihatan, pendengaran atau cita rasa.
Baris-baris puisi Awan yaitu “di alamku awan tak begitu bersinar / menyelimuti langit yang akan segera diguyur hujan /”  menunjukkan adanya pengimajian secara visual (yaitu melukiskan sesuatu melalui imaji penglihatan). 
e. Analisis penggunaan bunyi
Pada kutipan puisi Awan terdapat kesamaan rima yakni pada kata “ini” yang terdapat dalam baris ke-5 dan “lari” pada baris ke-6 serta terdapat juga kesamaan rima yakni pada baris ke-7 pada kata “hari”.
f. Analisis Makna puisi
Pada puisi Yeti Sumarwah gagasan yang ingin disampaikan dalam puisi “Awan” adalah pada larik  // putih menggumpa, berangsur menjalar // di asosiasikan bahwa langit pada saat itu sedang cerah , kemudian // membuka tabir di tengah cakrawala // di asosiasiakan dengan memberikan cahaya ke langit yang luas // matahari mengintip-mengintip / berebut tempat di langit // di asosiasikan bahwa matahari sedang bersinar dengan cerah // tak pernah hari tampak seindah ini / barisan manusia yang berlari – lari // di asosiasikan bahwa hari yang cerah membuat manusia berlari-lari kepanasan // di alamku awan takbegitu bersinar // di asosiasikan bahwa tiba-tiba langit mendung /menyelimuti langit yang akan diguyur hujan /  langit yang akan segera diguyur hujan // di artikan bahwa awan hitam tanda langit akan turun hujan.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar